BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang Masalah
Ilmu dan bahasa saling berkaitan satu sama lain. Bahasa merupakan
perantara kita dalam menyampaikan suatu ilmu. Bahasa berfungsi sebagai alat
berfikir ilmiah, muncul problem yang serius dan dapat diselesaikan dengan
bantuan filsafat. Bahasa sering tidak mampu membebaskan diri dari gangguan
pemakainya, kerusakan bahasa tersebut biasanya disebabkan oleh tidak
digunakannya kaidah logika, logika itu filsafat. Kekeliruan dalam berbahasa
melahirkan kekeliruan dalam berfikir. Untuk itu filsafat sangat berperan dalam
menentukan kualitas bahasa.
Ilmu dan bahasa merupakan dua hal yang tidak terpisahkan. Bahasa
berperan penting dalam upaya pengembangan dan penyebarluasan ilmu. Setiap
penelitian ilmiah tidak dapat dilaksanakan tanpa menggunakan bahasa, matematika
(sarana berpikir deduktif) dan statistika (sarana berpikir induktif) sebagai
sarana berpikir (Sarwono, 2006: 13). Upaya- upaya penyebarluasan ilmu juga
tidak mungkin dilaksanakan tanpa bahasa sebagai media komunikasi. Setiap forum
ilmiah pasti menggunakan bahasa sebagai sarana utama. Aktifitas-aktifitas yang
diarahkan untuk memahami, mengeksplorasi, dan mendiskusikan konsep-konsep ilmu
tidak dapat diselenggarakan tanpa melibatkan bahasa sebagai sarana.
1.2.Rumusan Masalah
Berdasarkan pada latar belakang masalah di atas, maka penulis
merumuskan masalah sebagai berikut:
1.
Bagaimanakah
Terminologi Ilmu, Ilmu pengetahuan dan Sains?
2.
Bagaimanakah
pengambilan ketetapan Quo Vadis?
3.
Bagaimanakah
Politik Bahasa Nasional?
1.3.Tujuan Makalah
Merujuk pada rumusan masalah di atas, maka tujuan dari makalah ini
adalah:
1.
Menjelaskan
Terminologi Ilmu, Ilmu pengetahuan dan Sains
2.
Menerangkan
pengambilan ketetapan Quo Vadis
3.
Menjelaskan
Politik Bahasa Nasional
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Terminologi
Ilmu, Ilmu Pengetahuan dan Sains
A. Dua
Jenis Ketahuan
Manusia dengan segenap kemampuan kemanusiaannya seperti perasaan,
pikiraan, pengalaman, pancaindra dan intuisi mampu menangkap alam kehidupannya
dan mengabstraksikan tanggapan tersebut dalam dirinya dalam bentuk “ketahuan”
umpamanya kebiasaan, akal sehat, seni, sejarah dan filsafat.
Terminologi ketahuan ini adalah
terminologi artifisial yang bersifat sementara sebagai alat analisis yang pada
pokoknya diartikan sebagai keseluruhan bentuk dari produk kegiatan manusia
dalam usaha untuk mengetahui sesuatu. Apa yang kita peroleh dalam proses
mengetahui tersebut tanpa memperhatikaan obyek, cara dan kegunaannya kita
masukkan ke dalam kategori yang disebut ketahuan ini. Dalam bahasa inggris
sinonim dari ketahuan ini adalah knowledge.
Knowledge merupakan terminologi generik yang mencakup segenap
bentuk yang kita tahu seperti filsafat, ekonomi, seni, bela diri, cara menyulam
dan biologi. Untuk membedakan tiap-tiap bentuk dari anggota kelompok knowledge
terdapat tiga kriteria yakni:
a.
Obyek
ontologis, adalah obyek yang ditelaah yang membuahkan pengetahuan (knowledge).
Umpamanya ekonomi menelaah hubungan antara manusia dengan benda/ jasa dalam
rangka memenuhi kebutuhan hidupnya.
b.
Landasan
epistemologis, berhubungan dengan cara yang dipakai untuk mendapatkan
pengetahuan (knowledge). Landasan epistemologis berbeda untuk tiap bentuk apa
yang diketahui manusia. Umpamanya landasan epistemologis matematika adalah
logika deduktif dan landasan epistemologis kebiasaan adalah pengalaman dan akal
sehat.
c.
Landasan
aksiologis, adalah nilai kegunaaan dari pengetahuan (knowledge). Landasan
aksiologis juga dapat dibedakan untuk tiap jenis pengetahuan (knowledge). Nilai
kegunaan filsafat berbeda dengan nilai kegunaan fisika nuklir.
Jadi
seluruh bentuk dapat digolongkan ke dalam kategori pengetahuan (knowledge)
dimana masing-masinng bentuk dapat dicirikan oleh karakterisktik:
a.
Obyek
ontologis: pengalaman manusia yakni segenap wujud yang dapat dijangkau lewat
pancaindera atau alat yang membantu kemampuan pancaindera.
b.
Landasan
epistemologis: metode ilmiah yang berupa gabungan logika deduktif dan logika
induktif dengan pengajuan hipotesis atau disebut logico-hyphotetico-verifikasi.
c.
Landasan
aksiologis: kemaslahatan manusia. Artinya segenap wujud pengetahuan (knowledge)
secara moral ditujukan untuk kebaikan hidup manusia.
B.
Sains
Sains merupakan adopsi yang kurang dapat dipertanggungjawabkan,
dimana sains adalah terminologi yang dipinjam dari bahasa inggris yakni science.
Pembentukan kata sifat dengan kata dasar sains ini adalah agak janggal dalam
struktur bahasa Indonesia.
Kemudian, terminologi science
dalam bahasa asalnya penggunaannya sering dikaitkan dengan natural science
seperti teknik. Maka teminologi science sering dikaitan dengan teknologi.
Sederhananya bahwa ilmu-ilmu sosial bukanlah sains atau dengan kata lain sains
hanya digunakan untuk ilmu-ilmu alam saja. Padahal bila merujuk pada pengertian
dari science adalah ilmu, yang berarti mencakup ilmu-ilmu sosial dan juga
ilmu-ilmu alam. Jadi adopsi sains dari kata science adalah kurang tepat.
2.2.
Quo Vadis
Terminologi Ilmu untuk science dan pengetahuan untuk knowledge,
secara de facto dalam kalangan dunia keilmuwan terminologi ilmu sudah sering
dipergunakan seperti dalam metode ilmiah dan ilmu-ilmu sosial atau ilmu-ilmu
alam. Adapun kelemahan dari pilihan ini ialah bahwa kita terpaksa meninggalkan
kata ilmu pengetahuan dan hanya menggunakan kata ilmu saja untuk sinonim
science dalam bahasa inggris. Alternatif pertama menggunakan ilmu pengetahuan
untuk science dan pengetahuan untuk knowledge.
2.3.
Politik Bahasa Nasional
Bahasa mempunyai dua fungsi utama yakni pertama, sebagai sarana komunikasi
antar manusia dan kedua, sebagai sarana budaya yang mempersatukan kelompok
manusia yang mempergunakan bahasa tersebut. Fungsi yang pertama dapat kita
sebutkan sebagai fungsi komunikatif dan fungsi yang kedua sebagai fungsi
kohesif atau integratif. Pengembangan suatu bahasa harus memperhatikan kedua
fungsi ini agar terjadi keseimbangan yang saling menunjang dalam
pertumbuhannya.
Pada tanggal 28 oktober 1928 bangsa Indonesia memilih bahasa
Indonesia sebagai bahasa nasional. Alasan utama bahasa Indonesia dipilih
sebagai bahasa nasional pada waktu itu ditekankan pada fungsi kohesif bahasa
Indonesia sebagai sarana untuk mengintegrasikan berbagai suku ke dalam satu
bangsa yakni Indonesia. Bahasa Indonesia selaku fungsi komunikatif yakni fakta
bahwa bahasa Indonesia merupakan lingua franca dari sebagian besar
penduduk, namun bila dikaji lebih mendalam, maka kriteria bahasa sebagai fungsi
kohesif merupakan kriteria yang menentukan. Penekanan pada fungsi kohesif dari
bahasa selaku alat perjuangan untuk mempersatukan dan memerdekakan bangsa,
pilihan dijatuhkan pada bahasa melayu.
Selaku alat komunikasi pada pokoknya bahasa mencakup tiga unsur
yakni pertama, bahasa selaku alat komunikasi untuk menyampaikan pesan yang
berkonotasi perasaan (emotif), kedua berkonotasi sikap (afektif) dan ketiga,
berkonotasi pikiran (penalaran). Fungsi komunikasi bahasa dapat diperinci
menjadi fungsi emotif, afektif dan penalaran. Perkembangan bahasa pada dasarnya
adalah pertumbuhan ketiga fungsi komunikatif tersebut agar mampu mencerminkan
perasaan, sikap dan pikiran suatu kelompok masyarakat yang mempergunakan bahasa
tersebut. Pengembangan bahasa Indonesia sebagai milik nasional dalam artian
yang sedalam-dalamnya, maka harus dicegah dominasi bahasa Indonesia oleh salah
satu bahasa daerah dan harus diarahkan agar bahasa Indonesia menghimpun
khasanah kata-kata yang terbaik dari seluruh bahasa daerah kita.
BAB III
PENUTUP
3.1.
Kesimpulan
Berdasarkan pada tinjauan pustaka dan pembahasan maka dapat
disimpulkan ilmu dan bahasa memiliki keterkaitan satu sama lain. ilmu dapat
berkembang, melalui publikasi ilmiah dengan menggunakan komunikasi bahasa yang
baik. Keterkaitan ini didukung dengan hakikat dari ilmu dan bahasa itu sendiri,
terminologi ilmu, ilmu pengetahuan (knowledge) dan sains, ketetapan quo vadis
dan politik bahasa nasional.
Mengatakan: “ knowledge merupakan terminologi generik yang mencakup
segenap bentuk yang kita tahu seperti filsafat, ekonomi, seni, beladiri, cara
menyulam, dan biologi...“. Ilmu (science) merupakan bagian dari pengetahuan
(knowledge), membahas bidang pengetahuan tertentu yang tersusun secara
sistematis, diperoleh dengan observasi (tahapan metode ilmiah) yang dapat
digunakan untuk menerangkan gejala tertentu di bidang (pengetahuan) itu.
Hakikat bahasa, bahasa memiliki fungsi komunikatif dan fungsi integratif.
Terminologi terdiri dari obyek ontologis (obyek yang ditelaah yang menghasilkan
pengetahuan), landasan epistemologis (cara mendapatkan pengetahuan) dan
landasan aksiologis (nilai kegunaan suatu pengetahuan). Quo Vadis menetapkan
Terminologi Ilmu untuk science dan pengetahuan untuk knowledge. Politik bahasa
nasional menetapkan bahasa nasional yaitu bahasa Indonesia berdasarkan fungsi
bahasa secara integratif.
3.2.
Saran
Merujuk pada keterkaitan antara ilmu dan bahasa, sebaiknya
penggunaan bahasa lebih dikembangkan lagi dengan bahasa yang baik dan benar
sehingga diharapkan dengan adanya bahasa yang baik dan benar, transfer ilmu
dapat berjalan dengan baik tanpa adanya salah paham. Kemudian, mengupayakan
pengembangan bahasa sebagai sarana berpikir dan berbicara, baik dalam kalangan
masyarakat keilmuan maupun non kelimuan.
DAFTAR PUSTAKA
penalaran”. 26/04/2012, 20:10
Pengembangan-Ilmu-Bahasa”. 27/04/2012, 20:18
age-0-must-revalidate-Content-Length-27-X
Suriasumantri, S. Jujun. (2007). Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
No comments:
Post a Comment