Friday, April 5, 2019

Filsafat Ilmu : ILMU DAN BAHASA..


BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang Masalah
Ilmu dan bahasa saling berkaitan satu sama lain. Bahasa merupakan perantara kita dalam menyampaikan suatu ilmu. Bahasa berfungsi sebagai alat berfikir ilmiah, muncul problem yang serius dan dapat diselesaikan dengan bantuan filsafat. Bahasa sering tidak mampu membebaskan diri dari gangguan pemakainya, kerusakan bahasa tersebut biasanya disebabkan oleh tidak digunakannya kaidah logika, logika itu filsafat. Kekeliruan dalam berbahasa melahirkan kekeliruan dalam berfikir. Untuk itu filsafat sangat berperan dalam menentukan kualitas bahasa.
Ilmu dan bahasa merupakan dua hal yang tidak terpisahkan. Bahasa berperan penting dalam upaya pengembangan dan penyebarluasan ilmu. Setiap penelitian ilmiah tidak dapat dilaksanakan tanpa menggunakan bahasa, matematika (sarana berpikir deduktif) dan statistika (sarana berpikir induktif) sebagai sarana berpikir (Sarwono, 2006: 13). Upaya- upaya penyebarluasan ilmu juga tidak mungkin dilaksanakan tanpa bahasa sebagai media komunikasi. Setiap forum ilmiah pasti menggunakan bahasa sebagai sarana utama. Aktifitas-aktifitas yang diarahkan untuk memahami, mengeksplorasi, dan mendiskusikan konsep-konsep ilmu tidak dapat diselenggarakan tanpa melibatkan bahasa sebagai sarana.
1.2.Rumusan Masalah
Berdasarkan pada latar belakang masalah di atas, maka penulis merumuskan masalah sebagai berikut:
1.      Bagaimanakah Terminologi Ilmu, Ilmu pengetahuan dan Sains?
2.      Bagaimanakah pengambilan ketetapan Quo Vadis?
3.      Bagaimanakah Politik Bahasa Nasional?

1.3.Tujuan Makalah
Merujuk pada rumusan masalah di atas, maka tujuan dari makalah ini adalah:
1.      Menjelaskan Terminologi Ilmu, Ilmu pengetahuan dan Sains
2.      Menerangkan pengambilan ketetapan Quo Vadis
3.      Menjelaskan Politik Bahasa Nasional





BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Terminologi Ilmu, Ilmu Pengetahuan dan Sains
A. Dua Jenis Ketahuan
Manusia dengan segenap kemampuan kemanusiaannya seperti perasaan, pikiraan, pengalaman, pancaindra dan intuisi mampu menangkap alam kehidupannya dan mengabstraksikan tanggapan tersebut dalam dirinya dalam bentuk “ketahuan” umpamanya kebiasaan, akal sehat, seni, sejarah dan filsafat.
            Terminologi ketahuan ini adalah terminologi artifisial yang bersifat sementara sebagai alat analisis yang pada pokoknya diartikan sebagai keseluruhan bentuk dari produk kegiatan manusia dalam usaha untuk mengetahui sesuatu. Apa yang kita peroleh dalam proses mengetahui tersebut tanpa memperhatikaan obyek, cara dan kegunaannya kita masukkan ke dalam kategori yang disebut ketahuan ini. Dalam bahasa inggris sinonim dari ketahuan ini adalah knowledge.
Knowledge merupakan terminologi generik yang mencakup segenap bentuk yang kita tahu seperti filsafat, ekonomi, seni, bela diri, cara menyulam dan biologi. Untuk membedakan tiap-tiap bentuk dari anggota kelompok knowledge terdapat tiga kriteria yakni:
a.       Obyek ontologis, adalah obyek yang ditelaah yang membuahkan pengetahuan (knowledge). Umpamanya ekonomi menelaah hubungan antara manusia dengan benda/ jasa dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya.
b.      Landasan epistemologis, berhubungan dengan cara yang dipakai untuk mendapatkan pengetahuan (knowledge). Landasan epistemologis berbeda untuk tiap bentuk apa yang diketahui manusia. Umpamanya landasan epistemologis matematika adalah logika deduktif dan landasan epistemologis kebiasaan adalah pengalaman dan akal sehat.
c.       Landasan aksiologis, adalah nilai kegunaaan dari pengetahuan (knowledge). Landasan aksiologis juga dapat dibedakan untuk tiap jenis pengetahuan (knowledge). Nilai kegunaan filsafat berbeda dengan nilai kegunaan fisika nuklir.
Jadi seluruh bentuk dapat digolongkan ke dalam kategori pengetahuan (knowledge) dimana masing-masinng bentuk dapat dicirikan oleh karakterisktik:
a.       Obyek ontologis: pengalaman manusia yakni segenap wujud yang dapat dijangkau lewat pancaindera atau alat yang membantu kemampuan pancaindera.
b.      Landasan epistemologis: metode ilmiah yang berupa gabungan logika deduktif dan logika induktif dengan pengajuan hipotesis atau disebut logico-hyphotetico-verifikasi.
c.       Landasan aksiologis: kemaslahatan manusia. Artinya segenap wujud pengetahuan (knowledge) secara moral ditujukan untuk kebaikan hidup manusia.
B. Sains
Sains merupakan adopsi yang kurang dapat dipertanggungjawabkan, dimana sains adalah terminologi yang dipinjam dari bahasa inggris yakni science. Pembentukan kata sifat dengan kata dasar sains ini adalah agak janggal dalam struktur bahasa Indonesia.
 Kemudian, terminologi science dalam bahasa asalnya penggunaannya sering dikaitkan dengan natural science seperti teknik. Maka teminologi science sering dikaitan dengan teknologi. Sederhananya bahwa ilmu-ilmu sosial bukanlah sains atau dengan kata lain sains hanya digunakan untuk ilmu-ilmu alam saja. Padahal bila merujuk pada pengertian dari science adalah ilmu, yang berarti mencakup ilmu-ilmu sosial dan juga ilmu-ilmu alam. Jadi adopsi sains dari kata science adalah kurang tepat.
2.2. Quo Vadis
Terminologi Ilmu untuk science dan pengetahuan untuk knowledge, secara de facto dalam kalangan dunia keilmuwan terminologi ilmu sudah sering dipergunakan seperti dalam metode ilmiah dan ilmu-ilmu sosial atau ilmu-ilmu alam. Adapun kelemahan dari pilihan ini ialah bahwa kita terpaksa meninggalkan kata ilmu pengetahuan dan hanya menggunakan kata ilmu saja untuk sinonim science dalam bahasa inggris. Alternatif pertama menggunakan ilmu pengetahuan untuk science dan pengetahuan untuk knowledge.
2.3. Politik Bahasa Nasional
Bahasa mempunyai dua fungsi utama yakni pertama, sebagai sarana komunikasi antar manusia dan kedua, sebagai sarana budaya yang mempersatukan kelompok manusia yang mempergunakan bahasa tersebut. Fungsi yang pertama dapat kita sebutkan sebagai fungsi komunikatif dan fungsi yang kedua sebagai fungsi kohesif atau integratif. Pengembangan suatu bahasa harus memperhatikan kedua fungsi ini agar terjadi keseimbangan yang saling menunjang dalam pertumbuhannya.
Pada tanggal 28 oktober 1928 bangsa Indonesia memilih bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional. Alasan utama bahasa Indonesia dipilih sebagai bahasa nasional pada waktu itu ditekankan pada fungsi kohesif bahasa Indonesia sebagai sarana untuk mengintegrasikan berbagai suku ke dalam satu bangsa yakni Indonesia. Bahasa Indonesia selaku fungsi komunikatif yakni fakta bahwa bahasa Indonesia merupakan lingua franca dari sebagian besar penduduk, namun bila dikaji lebih mendalam, maka kriteria bahasa sebagai fungsi kohesif merupakan kriteria yang menentukan. Penekanan pada fungsi kohesif dari bahasa selaku alat perjuangan untuk mempersatukan dan memerdekakan bangsa, pilihan dijatuhkan pada bahasa melayu.
Selaku alat komunikasi pada pokoknya bahasa mencakup tiga unsur yakni pertama, bahasa selaku alat komunikasi untuk menyampaikan pesan yang berkonotasi perasaan (emotif), kedua berkonotasi sikap (afektif) dan ketiga, berkonotasi pikiran (penalaran). Fungsi komunikasi bahasa dapat diperinci menjadi fungsi emotif, afektif dan penalaran. Perkembangan bahasa pada dasarnya adalah pertumbuhan ketiga fungsi komunikatif tersebut agar mampu mencerminkan perasaan, sikap dan pikiran suatu kelompok masyarakat yang mempergunakan bahasa tersebut. Pengembangan bahasa Indonesia sebagai milik nasional dalam artian yang sedalam-dalamnya, maka harus dicegah dominasi bahasa Indonesia oleh salah satu bahasa daerah dan harus diarahkan agar bahasa Indonesia menghimpun khasanah kata-kata yang terbaik dari seluruh bahasa daerah kita.


















BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Berdasarkan pada tinjauan pustaka dan pembahasan maka dapat disimpulkan ilmu dan bahasa memiliki keterkaitan satu sama lain. ilmu dapat berkembang, melalui publikasi ilmiah dengan menggunakan komunikasi bahasa yang baik. Keterkaitan ini didukung dengan hakikat dari ilmu dan bahasa itu sendiri, terminologi ilmu, ilmu pengetahuan (knowledge) dan sains, ketetapan quo vadis dan politik bahasa nasional.
Mengatakan: “ knowledge merupakan terminologi generik yang mencakup segenap bentuk yang kita tahu seperti filsafat, ekonomi, seni, beladiri, cara menyulam, dan biologi...“. Ilmu (science) merupakan bagian dari pengetahuan (knowledge), membahas bidang pengetahuan tertentu yang tersusun secara sistematis, diperoleh dengan observasi (tahapan metode ilmiah) yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala tertentu di bidang (pengetahuan) itu. Hakikat bahasa, bahasa memiliki fungsi komunikatif dan fungsi integratif. Terminologi terdiri dari obyek ontologis (obyek yang ditelaah yang menghasilkan pengetahuan), landasan epistemologis (cara mendapatkan pengetahuan) dan landasan aksiologis (nilai kegunaan suatu pengetahuan). Quo Vadis menetapkan Terminologi Ilmu untuk science dan pengetahuan untuk knowledge. Politik bahasa nasional menetapkan bahasa nasional yaitu bahasa Indonesia berdasarkan fungsi bahasa secara integratif.
3.2. Saran
Merujuk pada keterkaitan antara ilmu dan bahasa, sebaiknya penggunaan bahasa lebih dikembangkan lagi dengan bahasa yang baik dan benar sehingga diharapkan dengan adanya bahasa yang baik dan benar, transfer ilmu dapat berjalan dengan baik tanpa adanya salah paham. Kemudian, mengupayakan pengembangan bahasa sebagai sarana berpikir dan berbicara, baik dalam kalangan masyarakat keilmuan maupun non kelimuan.




DAFTAR PUSTAKA
penalaran”. 26/04/2012, 20:10
Pengembangan-Ilmu-Bahasa”. 27/04/2012, 20:18
age-0-must-revalidate-Content-Length-27-X
Suriasumantri, S. Jujun. (2007). Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

No comments:

Post a Comment